Kamis, 09 Juli 2009

insting peminpin



“Saya tidak begitu heran melihat petapa yang meninggalkan kesenagan duniawi agar hanya dapat menyembah Tuhan. Tapi saya sungguh kagum menyaksikan seorang pemilik kesenangan duniawi yang tinggal meraih dari telapak kakinya, tapi ia malah menutup matanya rapat-rapat dan hidup di dalam kesalehan, Setelah Yesus, jika ada orang yang mampu menghidupkan kembali orang mati, dia itulah orangnya.”

Itulah kira-kira komentar Raja Bizantium (Romawi Timur) dalam suasan duka saat menerima kabar wafatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada tahun 719 M.

Bisa jadi komentar tersebut terasa belebihan, apalagi jika diucapkan oleh seseorang yang baru ditinggal mati sahabatnya. Yang jelas, Umar hanya meninggalkan 17 dinar saat ia wafat. itu pun dengan wasiat agar sebagiannya digunakan untuk membayar sewa rumah tempatnya meninggal, dan sebagian lagi untuk membeli tanah pemakamannya. Umar wafat pada usia 36 di Darus SIman, dekat Hims.

Namanya adalah Umar Bin Abdul Aziz atau Umar II (Umar I adalah kakek buyutnya sendiri dari pihak ibunya, Umar bin Khattab), lahir di Halwan, Mesir tahun 63 Hijriah atau 682 Masehi dan wafat bulan Februari 720 M. Anak dari Gubernur Mesir, Abdul Aziz ini selain dikenal kesalehanya, juga masyhur lantaran kesederhanaannya. Makananya tak lebih baik dari manakan rakyat jelata. Ia tak membangun rumah pribadi dan hanya membelanjakan 2 dirham sehari. Ia juga menyerahkan istana untuk ditinggali keluarga Sulaiman bin Abdul Malik khalifah sebelumnya. Ia juga menolak pengawalan, dengan membubarkan 600 pengawal pribadi khalifah. Sebelum menjabat khalifah, harta pribadinya menghasilkan pendapatan 50.000 per tahun. Namaun segera ia lelang dan ia serahkan ke Baitul Mal saat ia terpilih menjadi Khalifah. AKibatnya pendapatanya merosot menjadi 200 dinar pertahun.

Umar dikenal paling anti dengan hadiah. SUatu hari seseorang menghadiahkan sekeranjang apelke padanya. Umar menolaknya. Orang tersebut lalu memberikan contoh Nabi yang mau menerima hadiah., Nmaun kata Umar,” Tidak diragukan lagi, hadiah itu memang untuk Nabi. kalau diberikan kepadaku itu namanya suap.”

Keluarga kerajaan , yang biasanya hidup mewah atas biaya rakyat, sudah tentu tidak suka dengan kebijkan Umar. Meraka protes atas pengembalian harta yang telah mereka kuasai kepada negara, atau kepada yang berhak, yang dahulu diambil secra paksa. Mereka juga protes , karena Umar memecat anggota keluarga Umaiyah yang terbukti tidak pecus jadi aparat negara.

Dalam salah satu suratnya yang dialamatkan kepada Gubernur Kufah, Umar mendesaknya agar menghapus semua peraturan tidak adil, Ia menulis:
“Anda harus mengetahui, agama dapat terpelihara baik, jika terdapat keadilan dan kebajikan. jangan remehkan segala dosa: jangan coba mengurangi apa yang menjadi hak rakyat: jangan paksakan rakyat melakukan sesuatu di luar batas kemampuan mereka. Ambilah drai mereka apa yang dapat mereka berikan. Lakukan apa saja untuk memperbaiki kehidupan dan kesejahteraan rakyat. Jangan menerima hadiah pada hari-hari besar…”

Dalam kisah lain diceritakan, Umar juga tampak kaget ketika menerima kabar bahwa salah satu putranya membeli permata yang mahal sekali, Umar pun segera menulis surat: “aku dengar kamu membeli sebutir permata seharga 1.000 dirham. Jika surat ini smapai, juallah cincin itu dan beri makanlah 1.000 orang miskin. Lalu buatlah cincin dari besi China, lalu tulis di situ: “Allah mengasihi orang yang tahu harga dirinya yang sebenarnya.”

Dan masih banyak lagi kisah-kisah yang menceritakan kebijakan Khalifah Umar bin Abdul Aziz ini. Kisah-kisah yang semakin kita baca semakin kita sedih akan kerinduan kita terhadap pemimpin sepertinya. Di tengah-tengah ramainya orang mempromosikan dirinya layak sebagai pengusa dan pemangku jabatan menjelang Pemilu April nanti. Kebijakan Umar merupakan penegasan apa yang kita sebut sekarang dengan Good governace & clean government. Adakah dari sekian banyak orang yang memajang foto dirinya untuk dipilih sebagai pengusa memberikan impian dan mengobati kerinduan ini

Jumat, 03 Juli 2009

insting peminpin




Tahun 2009 sudah hampir sebulan kita lalui, para ahli ekonomi baik dari dalam maupun luar negeri tetap memprediksikan bahwa tahun 2009 merupakan tahun yang “penuh dengan keprihatinan” .

Kompas edisi 29/1/09 memprediksikan akan ada lebih dari 50 juta orang kehilangan pekerjaan di seluruh dunia karena krisis global ini.

Kita seolah mengalami siklus sepuluh tahunan, di mana tahun 1998, krisis ekonomi yang menghantam Indonesia telah membuat jumlah orang miskin bertambah menjadi lebih dari dua kali lipat dari sebelumnya.
Bagaimana dengan tahun 2009?

Pastinya krisis yang menimpa kita saat ini tidak akan lebih baik dari krisis 2008 yang bersifat regional.

Krisis ekonomi kali ini bersifat global dan membawa dampak menyeluruh ke hampir semua belahan dunia.

Tapi apakah kondisi ini lantas membuat kita menjadi “loyo”?

Apalagi bagi Anda yang mulai berpikir untuk berwirausaha, Anda pasti bertanya-tanya, apakah ini saat yang tepat untuk berbisnis?. Bagaimana kalau bisnis saya malah rugi karena menurunnya purchasing power pelanggan?

Semuanya berpulang kepada diri Anda sendiri untuk dapat menjawabnya. Bagaimana Anda memaknai krisis ini, apakah akan tergerus ataukah justru berdiri semakin tegar karenanya.

Untuk dapat mengetahuinya, Anda perlu jujur untuk menilai diri Anda. Tipe karakter apa yang sesungguhnya Anda miliki saat ini?

Apa Anda orang yang cenderung menyerah saat menghadapi kesulitan dalam hidup, atau justru orang yang malah termotivasi dalam menghadapinya.

Setiap kesulitan yang kita hadapi menciptakan tekanan (pressure) terhadap diri kita. Dampak tekanan tersebut bisa berakibat secara fisik maupun psikis yang berbeda-beda pada setiap orang tergantung ketahanan di dalam menghadapinya.

Para ahli psikologi mengklasifikasikan empat tipe karakter orang di dalam menghadapi tekanan dalam hidupnya. Pertama adalah Tipe Kayu.

Sesuai dengan sifatnya, kayu apalagi yang rapuh, jika menerima tekanan akan lebih mudah patah. Orang berkarakter kayu gampang sekali “patah” pada saat menghadapi tekanan.

Mereka menganggap diri nya sebagai korban dari keadaan (tidak beruntung), lebih sering mengeluh, merasa tidak berdaya, meminta bantuan serta menyalahkan sesuatu di luar dirinya.

Bagi mereka tekanan dalam hidup adalah sesuatu yang harus dihindari baik dengan cara sembunyi maupun melarikan diri.

Mereka adalah orang yang patut dikasihani, karena sesungguhnya meskipun dewasa secara usia, tetapi belum dewasa secara mental. Orang-orang seperti ini perlu mendapatkan latihan tentang bagaimana menghadapi kesulitan.

Pola pengasuhan yang salah serta kebiasaan untuk mendapatkan segala sesuatu secara “instant” telah membuat mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang rapuh dan mudah patah secara mental.

Tipe Kedua adalah Tipe Besi. Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam jangka waktu lebih lama saat menghadapi tekanan. Sebagaimana besi, ketika tekanan semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak bisa kembali lagi ke posisi awal.

Dalam kehidupan nyata, orang dengan karakter besi biasanya tahan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan kecil di awal, namun ketika intensitas kesulitan semakin besar, mereka akan “membengkokkan diri” dan kehilangan fokus dari tujuan awalnya.

Tekanan yang menghampiri telah membuat mereka “keluar dari jalur” yang semestinya.

Mereka menjadi berkompromi terhadap tekanan dan mau menerima apapun yang disodorkan kepada dirinya.

Orang dengan karakter besi sesungguhnya memiliki fondasi untuk meraih kesuksesan. Hanya saja dibutuhkan seorang pembimbing yang akan menempanya kembali menjadi “lurus” yakni setia pada tujuan awal yang dicita-citakan.

Tipe ketiga adalah Tipe Sponge (busa). Coba perhatikan busa, tak perduli seberapa kuat Anda menekannya, dia akan kembali kepada bentuk awalnya. Dia fleksibel mengikuti tekanan, tapi tekanan tidak bisa merubah bentuk awalnya.

Orang yang berkarakter Sponge adalah orang yang fleksibel, yang mampu menahan tekanan, seberat apapun, dan tetap setia dan berkomitmen kuat memperjuangkan cita-citanya.

Segala halangan dan rintangan tidak akan membuat dirinya “patah dan bengkok”.

Dia akan selalu dapat melupakan kegagalan dan mau memulai lagi dari awal serta berfokus kembali pada targetnya.

Tipe yang terakhir adalah Tipe Bola Ping Pong. Ambillah bola ping pong dan pukulkan ke tembok, apa yang akan terjadi? Semakin keras Anda memukulnya, semakin keras pula daya pantulnya. Ini adalah tipe die-hard, orang yang justru akan “meledak” saat menghadapi kesulitan.

Semakin keras tantangan yang mereka hadapi semakin berkomitmen mereka untuk bekerja lebih keras, mengeluarkan ide-ide kreatifnya serta bekerja lebih baik lagi agar bisa mengatasi tantangan yang dihadapi.

Dan jika kesulitan berhasil ditaklukan, mereka terkadang sering menciptakan tantangan lagi untuk bisa dipecahkan.

Kalau kita membaca kisah orang-orang sukses, kita menemukan sebuah pola yang sama, bahwa mereka justru menjadi besar dengan memanfaatkan kesulitan hidup dan tekanan yang datang.

Banyak karya-karya besar di dunia ini justru lahir di balik jeruji penjara, kesuksesan usaha lahir dari kebangkrutan, kesuksesan hidup lahir dari kenestapaan, dan prestasi lahir dari ketidaksempuranaan diri.

Anda akan mendapatkannya di dalam biografi Konosuke Matsushita, Thomas Alva Edison, dan Kolonel Sanders serta orang-orang sukses lainnya. Mereka adalah orang yang “memantul” sama kerasnya, bahkan lebih keras, daripada tekanan yang mereka terima.

Jadi ketika krisis ekonomi menerpa kita, pilihannya ada ditangan Anda. Apakah Anda akan “patah, bengkok”, mampu bermanuver secara fleksibel atau malah “memantul” secara kreatif.

Tapi yakinlah satu hal, kalau Anda melakukan pekerjaan rumah dengan baik di “malam hari”, maka Anda akan lebih baik ketika siang harinya.

Krisis bukanlah sesuatu yang patut disesali dan ditangisi, ibarat hari, ada siang dan malam, maka akan ada pertumbuhan dan ada penurunan/krisis.

Yang terpenting adalah apa yang kita lakukan di masa krisis akan memberikan dampak ketika ekonomi bertumbuh kembali.

Ibarat petani, saat krisis adalah saat menabur benih, saat berinvestasi, dan kita akan menunggu hasilnya ketika musim panen tiba. Jadi kreatif-lah mencari peluang bisnis justru disaat krisis menghadang.

Pengikut